Selasa, 11 Maret 2008

Seks Dalam Pandangan Kristiani

Pendapat masyarakat tentang seks mengalami perubahan dari masa ke masa. Rollo May menulis, “Masyarakat zaman Victoria mencari cinta tanpa harus terlibat dengan seks; sementara masyarakat modern mencari seks tanpa harus terlibat dengan cinta”. Dari pandangan masyarakat Puritan yang mengatakan seks sebagai sarana kejahatan bagi prokreasi, kita beralih pada pandangan populer Playboy yang mengangap seks sebagai sarana rekreasi.

Kedua pandangan ekstrim tersebut tidak benar dan tidak menunjukan fungsi seks yg sesuai dengan maksud Tuhan. Pandangan negatif membuat pasangan yang telah menikah merasa bersalah saat berhubungan seks; sementara pandangan yang bebas membuat manusia menjadi seperti robot yang melihat seks dalam arti sempit dan hanya berfungsi untuk kepuasan.

Bagaimana seorang Kristen memahami seks? Apa yang Alkitab katakan tentang seksualitas? Tujuh prinsip dibawah ini diharapkan dapat membantu orang Kristen yang mempercayai Alkitab memahami seks.


Prinsip 1: Alkitab mengatakan bahwa seksualitas manusia sebagai sesuatu yang baik
.

Mari kita mulai dari awal: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27) Setelah penciptaan sebelumnya dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,18,21,25), tapi setelah penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, Allah melihat bahwa “segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31). Awal pengertian secara ilahi bahwa seksualitas manusia itu ‘sungguh amat baik’ menunjukan perbedaan seksual pria dan wanita sebagai bagian dari kebaikan dan kesempurnaan dari ciptaan Tuhan yang pertama.

Perhatikan juga bahwa perbedaan jenis kelamin pria dan wanita berhubungan dengan kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut peta Allah. Karena Kitab suci membedakan manusia dengan ciptaan yang lain, para ahli teologi berpendapat bahwa pengertian peta Allah mengaju pada kemampuan rasional, moral, dan spiritual yang Tuhan berikan kepada pria dan wanita.

Namun demikian, masih ada cara lain bagi kita untuk memahami pengertian dari peta Allah, berdasarkan apa yang tertulis dalam Kej 1:27: “menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.” Jadi kepriaan dan kewanitaan manusia mencerminkan peta Allah dalam pengertian bahwa pria dan wanita mempunyai kemampuan untuk memiliki kesatuan hubungan yang sama dengan kesatuan hubungan yang ada dalam konsep Trinitas. Tuhan dalam pengertian Alkitabiah bukanlah Sesuatu yang sendiri dalam singularitas abadi melainkan berada dalam hubungan tiga Oknum yang secara misterius disatukan sehingga kita menyembahnya sebagai satu Tuhan. Kesatuan yang misterius dalam konsep Trinitas ini dicerminkan melalui gambar ilahi dalam manusia, dalam dua jenis kelamin yang berbeda; pria dan wanita; yang juga secara misterius disatukan dalam perkawinan menjadi ‘satu daging’.


Prinsip 2: Seksualitas manusia adalah satu proses dimana dua menjadi ‘satu daging’.

Hubungan intim antara seorang pria dan wanita diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Istilah ‘satu daging’ mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh diantara pasangan yang telah menikah. Penyatuan utuh ini dapat dialami khususnya melalui hubungan seksual yang merupakan tindakan dari pengekspresian cinta sejati, rasa hormat, dan komitmen.

Istilah ‘menjadi satu daging’ menunjukan rencana Tuhan tentang seks dalam perkawinan. Hal ini menjelaskan bahwa Tuhan melihat seks sebagai media bagi suami istri untuk mencapai kesatuan. Harus diperhatikan bahwa pengandaian ‘satu daging’ tidak diterapkan untuk mengambarkan hubungan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang laki-laki akan ‘meninggalkan’ orang tuanya untuk menjadi ‘satu daging’ dengan istrinya. Hubungan dengan istrinya berbeda dengan hubungan dengan orang tuanya karena hubungan dengan istri merupakan kesatuan baru yang diperoleh melalui penyatuan seksual.

Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan dari kegiatan seksual yang tidak hanya sebagai prokreasi (untuk memperoleh keturunan) tetapi juga psikologi (memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai satu hubungan kesatuan). Kesatuan menunjukan keinginan untuk mengetahui sisi paling khusus dari pasangan secara emosi, fisik dan intelektual. Ketika mereka saling memahami dengan cara yang paling khusus, mereka akan mengerti arti dari menjadi satu daging. Hubungan seksual tidak secara otomatis memberikan pengertian kesatuan. Lebih jauh lagi setiap pasangan harus memahami betul arti saling berbagi dalam hubungan suami-istri.


Prinsip 3: Seks adalah memahami satu sama lain melalui cara yang paling intim.

Hubungan seksual diantara pasangan yang telah menikah membuat mereka dapat saling memahami melalui cara yang paling khusus. Hal ini tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Berhubungan seksual tidak hanya membiarkan pasangan kita melihat tubuh kita tapi juga kepribadian kita. Inilah sebabnya mengapa kitab suci sering menggambarkan hubungan seksual sebagai ‘memahami’, kata kerja yang sama digunakan dalam Ibrani yang mengacu pada memahami Tuhan.

Adam tentu saja sudah mengenal Hawa sebelum mereka berhubungan seksual, namun ia mengenal Hawa lebih jauh lagi melalui cara yang paling khusus tersebut. Dwight H. Small mengemukakan, “pengungkapan rahasia diri melalui hubungan seksual merupakan pengungkapan diri yang paling tinggi dari semua tingkat dalam keberadaan satu pribadi. Ini adalah satu cara unik yang eklusif. Mereka saling mengenal seolah mereka tidak pernah mengenal orang lain. Pengetahuan yang unik ini merupakan satu rasa memiliki yang sejati… keadaan telanjang merupakan satu simbol bahwa tidak ada yang tersembunyi diantara pasangan suami istri.”

Proses menuju hubungan seksual adalah satu proses pertumbuhan. Mulai dari sekedar mengenal, kemudian berkencan, bertunangan, menikah, dan berhubungan seksual, pasangan belajar mengenal satu sama lain. Hubungan seksual merupakan puncak dari proses pertumbuhan tersebut.Seperti yang dikemukakan oleh Elizabeth Achtemeier: “Kami merasa seolah kedalaman diri yang paling tersembunyi muncul kepermukaan dan terungkap sebagai satu ekspresi cinta kami yang murni”.


Prinsip 4: Alkitab mengecam hubungan seks diluar nikah.

Karena seks melambangkan hubungan antar pribadi yang paling intim dan mengekspresikan penyatuan ‘satu daging’ berdasarkan komitmen total, seks tidak boleh dilakukan dalam satu hubungan biasa yang hanya berlandaskan kesenangan. Penyatuan dalam hubungan semacam itu merupakan tindakan amoral.

Hubungan seks diluar nikah adalah masalah yang serius karena membawa pengaruh yang lebih dalam dari dosa-dosa yang lain. Seperti yang rasul Paulus nyatakan :”Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18). Sebagian orang berpendapat bahwa minuman beralkohol juga berpengaruh terhadap diri seseorang. Tetapi pengaruhnya tidak bersifat permanen seperti yang ditimbulkan oleh dosa seksual.

Kebiasaan makan makanan yang dilarang dapat ditiadakan, barang yang dicuri dapat dikembalikan, kebohongan dapat diganti dengan kebenaran, namun perbuatan seksual tidak dapat dihapuskan begitu saja.

Ini bukan berarti bahwa dosa seksual tidak bisa diampuni. Kitab suci mengatakan bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan ‘menyucikan kita dari segala kejahatan.’ (I Yoh 1:9) Ketika Daud bertobat karena telah melakukan perzinahan dan pembunuhan, Tuhan memaafkannya. (lihat Mazmur 32 dan 51)

Prinsip 5: Seks tanpa komitmen membuat manusia sama seperti benda.

Seks diluar nikah adalah seks tanpa komitmen. Hubungan semacam ini menghancurkan integritas seseorang dengan merendahkannya menjadi satu obyek yang digunakan untuk kepuasan pribadi. Seseorang yang merasa terhina setelah berhubungan seksual bisa saja menjadi trauma karena takut hanya akan dimamfaatkan atau justru menjadi tidak menghargai tubuhnya lagi sehingga melakukan hubungan seksual secara sangat bebas. Ia telah kehilangan kesempatan untuk mengunakan seks sebagai cara untuk mengekspresikan rasa cinta dan merusak pengertian seksualitas manusia yang sesungguhnya.

Seks tidak dapat digunakan sebagai cara untuk bersenang-senang dengan seseorang sementara disaat yang sama digunakan untuk menunjukan cinta sejati dan komitmen dengan orang lain. Pandangan alkitab tentang kesatuan, keintiman, dan cinta sejati tidak ditunjukan melalui seks diluar nikah atau seks dengan lebih dari satu orang pasangan.

Pasangan yang telah bertunangan mungkin mengatakan bahwa mereka mengekspresikan cinta yang sejati saat mereka melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah. Dari sudut pandang Kristen, pasangan yang bertunangan harus saling menghormati dan melihat pertunangan sebagai persiapan menuju pernikahan, bukan sebagai pernikahan itu sendiri. Sampai janji pernikahan diucapkan, kemungkinan pertunangan itu putus tetap ada. Jika pasangan itu telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, mereka telah melanggar komitmen. Dan bila dikemudian hari hubungan ini putus, akan meninggalkan bekas luka emosi yang permanen. Hubungan seksual yang sah hanya bisa dilakukan bila seorang pria dan wanita bersedia untuk menjadi satu tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis dengan memikul tanggung jawab terhadap masing-masing pasangannya.

Kecaman terkeras dari sudut pandang Kriten memang ditujukan kepada tindakan amoral seks diluar nikah. Kecaman tersebut jelas terdapat dalam Alkitab. Alkitab menolak menggunakan ‘istilah yang lebih lunak’. Contohnya seks pra-nikah dengan tekanan pada ‘pra’ dan bukan pada ‘nikah’. Perzinahan diartikan sebagai ‘seks diluar nikah’. Homoseksualitas digambarkan dengan istilah yang lebih lunak sebagai satu ‘variasi gay’ dan bukan disebut sebagai ‘penyimpangan’.

Orang Kristen saat ini mulai mempertimbangkan satu alasan bahwa ‘cinta membuat seks diluar nikah sesuatu benar’. Jika seorang pria dan wanita jatuh cinta, mereka berhak mengekspresikan cinta mereka walaupun melalui hubungan seks diluar nikah. Beberapa pendapat mengatakan bahwa seks sebelum nikah membebaskan mereka dari tradisi kuno dan memberikan mereka satu kebebasan emosi. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa seks pra-nikah menimbulkan tekanan emosi karena mengartikan cinta sekedar hubungan fisik tanpa satu komitmen total diantara pasangan yang menikah.

Prinsip 6:Seks merupakan sarana prokreasi dan relasi.

Sampai awal abad ini, orang Kristen percaya bahwa fungsi utama seks adalah untuk prokreasi. Pertimbangan lain, seperti aspek kesatuan, relational, dan kesenangan, dianggap sebagai fungsi sampingan. Namun keadaan tersebut mulai berubah diabad 20.

Dari sudut pandang Alkitab, kegiatan seksual dalam perkawinan merupakan sarana prokreasi dan relasi. Sebagai orang Kristen kita perlu menjaga keseimbangan antara kedua fungsi seks ini. Hubungan seks adalah kegiatan menyenangkan yang menimbulkan rasa saling memiliki dan menjadi satu sementara menciptakan satu kemungkinan untuk membawa satu kehidupan baru ke dalam dunia ini. Kita harus menyadari bahwa seks adalah anugerah ilahi yang hanya dapat dinikmati dalam perkawinan.

Paulus menganjurkan pada suami-istri “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” (I Kor 7:3-5; lihat juga Ibrani 13:4)


Prinsip 7: Seks memampukan pria dan wanita untuk mencermikan peta Allah dengan turut serta dalam kegiatan kreatifNya.

Dalam Alkitab, seks tidak hanya berfungsi dalam proses penyatuan roh yang misterius tetapi juga menciptakan kemungkinan untuk membawa anak-anak lahir kedunia ini. “Beranak cuculah dan bertambah banyak”, perintah Tuhan dalam Kej 1:28.

Tentu saja tidak semua pasangan dianugerahi anak. Usia tua, kemandulan, ataupun penyakit genetik adalah beberapa dari faktor yang menyebakan seseorang tidak mungkin mempunyai anak. Namun bagi sebagian besar pasangan yang menikah, mempunyai anak adalah hal yang wajar dalam kehidupan perkawinan. Hal ini tidak berarti bahwa setiap tindakan dari kesatuan seks harus mengacu pada konsep tersebut.

“Kita tidak bermaksud memisahkan seks dari kemungkinan untuk mempunyai anak,” tulis David Phypers, “dan mereka yang melakukan hal itu dengan alasan-alasan pribadi, sesungguhnya tidak memahami tujuan Tuhan terhadap hidup mereka. Mereka mengambil resiko untuk tidak mengindahkan perkawinan mereka dan kegiatan seksual dalam perkawinan hanyalah demi kepuasan semata. Mereka tidak bersedia turut serta dalam satu proses kreatif untuk membawa kehidupan baru anak-anak mereka ke dalam dunia ini, membesarkan dan mendidik mereka hingga sampai pada kedewasaan.”

Kita tidak akan menemukan jawaban yang gamblang dalam Alkitab. Kita telah melihat bahwa seks memiliki sarana prokreasi dan relasi. Kenyataan bahwa fungsi seks dalam perkawinan tidak hanya untuk meneruskan keturunan tetapi juga untuk mengekspresikan cinta dan komitmen, menunjukan adanya keterbatasan dalam fungsi seks sebagai sarana reproduksi. Dengan kata lain bahwa fungsi relasi merupakan fungsi yang lebih dinamis dibandingkan fungsi reproduksi.

Hal ini memicu pertanyaan: apakah kita berhak campur tangan dalam proses reproduksi yang direncanakan Tuhan? Jawaban dari Gereja katolik Roma adalah Tidak!. Apa yang harus dilakukan oleh umat katolik telah dijelaskan Paus Paulus VI dalam suratnya Humane Vitae (29 Juli 1968), yang mengakui moralitas kesatuan seksual antara suami dan istri, walaupun tidak memiliki anak. Dalam suratnya Paus tidak menyeujui penggunaan alat kontrasepsi buatan dan menganjurkan mengunakan cara alamiah ‘metode ritme’ untuk mengontrol kelahiran. Dalam metode ini hubungan seksual hanya boleh dilakukan pada saat istri dalam masa tidak subur.

Usaha Humane Vitae untuk membedakan antara kontrasepsi ‘buatan’ dan ‘alami’ kemudian menimbulkan masalah baru. Penolakan untuk menggunakan kontrasepsi buatan menjalar pada penolakan untuk menggunakan vaksin, hormon, atau obat-obatan yang tidak diproduksi secara alami dalam tubuh manusia.

“Seperti penemuan manusia yang lain,” tulis David Phypers,”kontrasepsi dipandang sebagai sesuatu yang netral dari segi moral; masalahnya terletak pada apa yang akan kita lakukan dengan kontrasepsi itu. Jika kita menggunakannya untuk melakukan hubungan seks diluar nikah atau demi keegoisan kita, atau jika kita menggunakannya untuk merusak perkawinan orang lain, kita akan dipersalahkan karena tidak mematuhi kehendak Allah dan karenanya kita menghancurkan arti perkawinan. Namun apabila kita menggunakannya dengan tepat untuk kesehatan dan demi kesejahteraan keluarga kita, kontrasepsi justru akan membantu kita memperoleh rumah tangga yang bahagia. Dengan kontrasepsi kita dapat melindungi keluarga kita dari masalah fisik, emosi, ekonomi, dan psikologi yang mungkin ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak direncanakan, sementara diwaktu yang sama kita dapat mencurahkan perhatian kita untuk menumbuhkan cinta yang dapat memperkuat ikatan perkawinan.

Kesimpulan

Seksualitas manusia adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Tidak ada jejak dosa didalamnya. Namun, sama seperti anugerah Tuhan yang lain bagi manusia, seks juga digunakan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari kehendak Tuhan. Seks berfungsi sebagai sarana untuk menyatukan dan memperoleh keturunan, dalam hubungan pria dan wanita untuk menjadi ‘satu daging’. Ketika hubungan itu rusak, baik oleh seks pra-nikah atau seks diluar nikah, kita telah melanggar hukum ketujuh. Kita telah berbuat dosa, dosa terhadap Allah dan dosa terhadap diri sendiri.

Tapi Alkitab tidak meninggalkan kita tanpa harapan. Alkitab memperkenalkan kita kepada kasih Allah yang bersedia mengampuni segala dosa, termasuk dosa seksual. Walaupun dosa seksual meninggalkan bekas dalam kesadaran kita dan dapat menyakiti orang lain, pertobatan yang sungguh-sungguh mampu membuka pintu maaf Allah. Tidak ada dosa yang sangat besar sehingga kasih Allah tidak dapat membawa penyembuhan dan perbaikan. Yang harus kita lakukan adalah meraih kasih itu, karena hanya kasih yang membuat kita menyadari potensi kita masing-masing yang telah diberikan oleh Pencipta kita.

Kita juga harus menerapkan hal itu dalam kehidupan seksual kita. Pada saat orang-orang mulai memperbolehkan seks bebas, saat itulah menjadi peringatan bagi kita sebagai orang Kristen untuk kembali memperkuat komitmen kita tentang seks menurut pandangan Alkitab sebagai satu anugerah ilahi yang hanya boleh dilakukan dalam perkawinan. (Oleh Samuele Bacchiocchi,diterjemahakan oleh Maria)

Tidak ada komentar: